Sunday, January 1, 2017

Mengemas Pembelajaran Tutorial pada Pendidikan Kesetaraan

Sebagian besar tutor dan penyelenggara pendidikan kesetaraan (Paket A, Paket B, dan Paket C), masih rancu dengan tiga bentuk pembelajaran yaitu tatap muka, tutorial, dan mandiri. Terutama masih belum jelas bagaimana bentuk pembelajaran tutorial yang sesungguhnya di pendidikan kesetaraan. Seringkali kegiatan pembelajaran yang bentuknya tatap muka biasa dianggap sebagai tutorial, hanya karena pendidiknya disebut dengan tutor.

Secara umum pembelajaran tutorial (tutoring) adalah bantuan atau bimbingan belajar yang bersifat akademik oleh tutor kepada warga belajar (tutee) untuk membantu kelancaran proses belajar mandiri warga belajar secara perorangan atau kelompok berkaitan dengan materi ajar. Pembelajaran tutorial dilaksanakan secara tatap muka atau jarak jauh berdasarkan konsep belajar mandiri.

Konsep belajar mandiri dalam tutorial dibedakan dengan bentuk pembelajaran mandiri sebagaimana diatur dalam standar isi dan standar proses program pendidikan kesetaraan. Konsep belajar mandiri dalam tutorial mengandung pengertian, bahwa tutorial merupakan bantuan belajar dalam upaya memicu dan memacu kemandirian, disiplin, dan inisiatif diri warga belajar dalam belajar dengan minimalisasi intervensi dari pihak pembelajar/tutor.

Berdasarkan standar proses pendidikan kesetaraan pembelajaran tutorial adalah berbasis menyelesaian masalah-masalah yang sulit, atau lebih praktis lagi pembelajaran tutorial berbentuk latihan soal atau drill soal. Tutorial disediakan bagi warga belajar yang membutuhkan bimbingan untuk pencapaian kompetensi tertentu atau bimbingan lain yang menunjang pencapaian kompetensi, termasuk praktek keterampilan.

Proses pembelajaran tutorial dilakukan minimal 30% dari keseluruhan proses pembelajaran yang dihitung secara blok satuan kredit kompetensi.

Lalu apa beda pembelajaran tatap muka dan pembelajaran tutorial sabagaimana diatur dalam standar proses pendidikan kesetaraan? Perbedaan pokok adalah pada fokus belajar, pembelajaran tatap muka berorientasi pada penyampaian materi sedangkan pembelajaran tutorial berorientasi pada pembahasan materi yang sulit. Jika dianalogikan, tutor dalam pembelajaran tatap muka seperti guru sekolah mengajar sedangkan tutor dalam pembelajaran tutorial seperti guru bimbingan belajar/les. Cukup mudah untuk dapat membedakan keduanya.

Prinsip pokok tutorial adalah ‘’kemandirian warga belajar’’ (student’s independency). Tutorial tidak ada, jika kemandirian tidak ada. Jika warga belajar tidak belajar di rumah, dan datang ke tutorial dengan ‘kepala kosong’, maka yang terjadi adalah pembelajaran tatap muka biasa, bukan tutorial. Dengan demikian, secara konseptual tutorial perlu dibedakan secara tegas dengan pembelajaran tatap muka, di mana peran tutor sangat besar.

Peran utama tutor dalam tutorial adalah (1) pemicu dan pemacu kemandirian belajar warga belajar, berpikir dan berdiskusi; (2) pembimbing, fasilitator, dan mediator warga belajar dalam membangun pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan akademik dan profesional secara mandiri, dan/atau dalam menghadapi atau memecahkan masalah-masalah dalam belajar mandirinya; (3) memberikan bimbingan dan panduan agar warga belajar secara mandiri memahami mata pelajaran; (4) memberikan umpan balik kepada warga belajar secara tatap muka atau melalui alat komunikasi; memberikan dukungan dan bimbingan, termasuk memotivasi dan membantu warga belajar mengembangkan keterampilan belajarnya.

Agar tutorial tidak terjebak dalam situasi tatap muka biasa, terbina hubungan bersetara, mampu memainkan peran-peran di atas, dan tutorial berjalan efektif, tutor perlu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang berfungsi untuk (1) membangkitkan minat warga belajar terhadap materi yang sedang dibahas, (2) menguji pemahaman warga belajar terhadap materi pelajaran, (3) memancing warga belajar agar berpartisipasi aktif dalam kegiatan tutorial, (4) mendiagnosis kelemahan-kelemahan warga belajar, dan (5) menuntun warga belajar untuk dapat menjawab masalah yang sedang dihadapi.

Selanjutnya pelaksanaan pembelajaran tutorial dilakukan melalui tahapan kegiatan sebagai berikut.


Kegiatan pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, tutor:

  • menyiapkan kondisi pembelajaran agar warga belajar terlibat baik secara psikis maupun fisik sehingga siap mengikuti proses pembelajaran;
  • mencatat kehadiran warga belajar;
  • menyampaikan tujuan tutorial.



Kegiatan inti

Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi warga belajar untuk berpartsipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis warga belajar. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik warga belajar dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Dalam kegiatan inti, tutor:

  • mengidentifikasi materi-materi yang sulit bagi warga belajar;
  • bersama warga belajar membahas materi;
  • memberikan latihan sesuai dengan tingkat kesulitan yang dialami setiap warga belajar;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain,
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antar warga belajar serta antara warga belajar dengan pendidik, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan warga belajar secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran;
  • memberikan balikan dan penguatan.



Kegiatan penutup

Dalam kegiatan penutup, tutor:

  • bersama-sama dengan warga belajar membuat rangkuman/kesimpulan pelajaran;
  • bersama warga belajar melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan;
  • melakukan penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • memotivasi warga belajar untuk mendalami materi pembelajaran melalui kegiatan belajar mandiri;
  • melakukan kegiatan tindak lanjut melalui layanan konseling, dan/atau memberikan tugas terstruktur baik secara individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar warga belajar;
  • menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan tutorial berikutnya.
  • Memperhatikan penjelasan di atas, maka dalam menyusun rencana pembelajaran dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) harus disesuaikan. Walau komponen dokumen pembelajaran sama antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran tutoria, namun terdapat perbedaan.


Dokumen silabus pembelajaran tutorial dicirikan pada kolom kegiatan pembelajaran, yaitu uraian kegiatan pembelajaran menandakan aktivitas pembelajaran tutorial bukan aktivitas pembelajaran tatap muka. Komponen lainnya tidak berbeda dengan komponen silabus pembelajaran tatap muka.

Dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tutorial dicirikan pada bagian langkah-langkah pembelajaran, yaitu berisi uraian langkah-langkah pembelajaran yang menandakatn aktivitas pembelajaran tutorial bukan aktivitas pembelajaran tatap muka. Komponen lainnya tidak berbeda dengan komponen RPP tatap muka.

Tutor juga menstimulasi warga belajar untuk terlibat aktif dalam pembahasan (a) masalah yang ditemukan warga belajar dalam mempelajari modul; (b) kompetensi atau konsep esensial mata pelajaran; dan (c) persoalan yang terkait dengan unjuk kerja warga belajar di dalam/di luar kelas tutorial.

Untuk mendukung pelaksanaan peran dan fungsi-fungsi di atas, tutor perlu menguasai secara trampil sejumlah keterampilan dasar tutorial, yakni (1) membuka dan menutup tutorial; (2) bertanya lanjut; (3) memberi penguatan; (4) mengadakan variasi; (5) menjelaskan; (6) memimpin diskusi kelompok kecil; (7) mengelola kelas; dan (8) mengajar kelompok kecil dan perorangan. Kedelapan jenis keterampilan dasar tutorial ini pada dasarnya sama dengan keterampilan dasar mengajar, yang diadaptasi dari perangkat “Sydney Micro Skills” yang dikembangkan oleh Sydney University tahun 1973.

Sebenarnya ada empat modus tutorial, yakni: tutorial tatap muka (TTM); tutorial tertulis (tutis) lewat surat-menyurat/krespondensi; tutorial elektorik (tutel) lewat televisi, radio, media massa, dan internet; dan tutorial online (tuton) lewat internet. Dalam konteks pembelajaran pendidikan kesetaraan, modus tutorial biasanya berbentuk tutorial tatap muka. Artinya tutorial dilaksanakan secara dengan bertatap-muka antar warga belajar bersama dengan tutor. Dengan demikian pembelajaran tutorial juga terjadwal sebagaimana pembelajaran tatap muka, karena pelaksanaan tutorial tatap muka juga menuntut kehadiran warga belajar di tempat pembelajaran.

Pembelajaran tutorial dapat berbentuk online, selama menggunakan daring sinkronus. Artinya antara tutor dan warga belajar dapat berinteraksi langsung (online) pada saat itu juga. Dalam hal ini tutor dapat mencatat kehadiran warga belajar dengan mengetahui notifikasi bahwa warga belajar sedang online mengikuti pembelajaran tutorial. Interaksi yang terjadi bisa menggunakan teleconference atau chatting.

Pembelajaran tutorial dapat dilaksanakan secara klasikal atau dibagi dalam kelompok. Jika dilakukan secara klasikal tutor jangan terjebak dalam pembelajaran tatap muka. Tutorial secara klasikal harus menuntut warga belajar untuk membaca terlebih dahulu modul yang ada, dan fokus kepada permasalahan yang dihadapi warga belajar dalam menguasai modul.

Pembelajaran tutorial dapat juga dilaksanakan secara kelompok, melalui diskusi kelompok. Diskusi kelompok terbimbing yang merupakan kelompok diskusi yang beranggotakan 5-6 warga belajar pada setiap kelas di bawah bimbingan tutor mata pelajaran dengan menggunakan tutor sebaya. Tutor sebaya adalah warga belajar yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu kesulitan anggota dalam memahami materi ajar. Dengan menggunakan model tutor sebaya diharapkan setiap anggota lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang dihadapi sehingga warga belajar yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk mempelajari materi ajar dengan baik.

Untuk menghidupkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok, peran ketua kelompok sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan. Ketua kelompok dipilih secara demokratis oleh seluruh warga belajar. Sebelum diskusi kelompok terbentuk, warga belajar perlu mengajukan calon tutor sebaya.

Tutor sebaya atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut (1) memberikan tutorial kepada anggota terhadap materi ajar yang sedang dipelajari; (2) mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis; (3) menyampaikan permasalahan kepada tutor pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai; (4) menyusun jadwal diskusi bersama anggota kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin dan insidental untuk memecahkan masalah yang dihadapi; (5) melaporkan perkembangan akademis kelompoknya kepada tutor pembimbing pada setiap materi yang dipelajari.

Peran tutor dalam metode diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, tutor hanya melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh warga belajar. [fauziep]

sumber: http://fauziep.com/mengemas-pembelajaran-tutorial-pada-pendidikan-kesetaraan/

Thursday, December 8, 2016

Bagaimana mekanisme penggunaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) ?


Masih banyak masyarakat yang tidak mengerti cara menggunakan KIP untuk menerima manfaat dari PIP, meski distribusi KIP sudah hampir mencapai 100%.

Ada anak-anak yang pas menerima KIP di dalam amplop, amplopnya langsung disobek lalu mereka langsung berbondong-bondong ke bank, dikiranya (uangnya) bisa langsung dicairkan.  Padahal, penerima KIP harus mendaftarkan dirinya dulu di sekolah atau lembaga pendidikan nonformal lain untuk dimasukkan datanya ke data pokok pendidikan (Dapodik).


Setelah diverifikasi dan turun Surat Keputusan (SK) Penetapan Penerima Manfaat PIP, pemegang KIP bisa mencairkan dana di bank penyalur yaitu di Bank Negara Indonesia (BNI '46) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Apa yang dimaksud dengan Program Indonesia Pintar PIP dan KIP?

Program Indonesia Pintar adalah salah satu program nasional (tercantum dalam RPJMN 2015-2019) yang bertujuan untuk:

1. Meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar dan menengah.
2. Meningkatkan angka keberlanjutan pendidikan yang ditandai dengan menurunnya angka putus sekolah dan angka melanjutkan.
3. Menurunnya kesenjangan partisipasi pendidikan antar kelompok masyarakat, terutama antara penduduk kaya dan penduduk miskin, antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan, antara wilayah perkotaan dan perdesaan, dan antar daerah.
4. Meningkatkan kesiapan siswa pendidikan menengah untuk memasuki pasar kerja atau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

Apa yang dimaksud dengan Program Indonesia Pintar melalui pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP)?

Program Indonesia Pintar melalui KIP adalah pemberian bantuan tunai pendidikan kepada seluruh anak usia sekolah (6-21 tahun) yang menerima KIP, atau yang berasal dari keluarga miskin dan rentan (misalnya dari keluarga/rumah tangga pemegang Kartu Keluarga Sejahtera/KKS) atau anak yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Program Indonesia Pintar melalui KIP merupakan bagian penyempurnaan dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) sejak akhir 2014

Mengapa anak usia sekolah diberikan KIP?
KIP diberikan sebagai penanda/identitas untuk menjamin dan memastikan agar anak mendapat bantuan Program Indonesia Pintar apabila anak telah terdaftar atau mendaftarkan diri (jika belum) ke lembaga pendidikan formal (sekolah/madrasah) atau lembaga pendidikan non formal 
(Pondok Pesantren, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/PKBM, Paket A/B/C, Lembaga Pelatihan/Kursus dan Lembaga Pendidikan Non Formal lainnya di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama).

Siapa penyelenggara Program Indonesia Pintar ?
Program Indonesia Pintar melalui pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP) diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Apa tujuan dari Program Indonesia Pintar Melalui KIP?

  1. Menghilangkan hambatan anak (usia sekolah) secara ekonomi untuk berpartisipasi di sekolah sehingga mereka  memperoleh akses pelayanan pendidikan yang lebih baik di tingkat dasar dan menengah.
  2. Mencegah anak/siswa mengalami putus sekolah akibat kesulitan ekonomi.
  3. Mendorong anak/siswa yang putus sekolah agar kembali bersekolah.
  4. Membantu anak/siswa kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan kegiatan pembelajaran.
  5. Mendukung penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (9) dan Pendidikan Menengah Universal (Wajib Belajar 12  tahun).


Siapa saja sasaran penerima Kartu Indonesia Pintar/KIP?
Untuk tahun 2016, KIP akan diberikan kepada 19,5 juta anak usia sekolah (6-21 tahun)  baik dari keluarga/rumah tangga tidak mampu yang ditetapkan oleh pemerintah atau yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Apa saja kriteria/ siswa penerima KIP?

  1. Penerima BSM dari keluarga pemegang KPS yang telah ditetapkan dalam SP2D 2014.
  2. Anak usia sekolah (6-21 tahun) dari keluarga pemegang KPS/KKS yang belum ditetapkan sebagai Penerima bantuan BSM.
  3. Anak usia sekolah (6-21 tahun) dari Peserta Program Keluarga Harapan (PKH).
  4. Anak usia sekolah (6-21 tahun) yang tinggal di Panti Asuhan/Sosial.
  5. /Anak/santri usia 6-21 tahun dari Pondok Pesantren yang memiliki KPS/KKS (khusus untuk BSM Madrasah) melalui jalur usulan Madrasah.
  6. Siswa Anak usia sekolah (6-21 tahun) yang terancam putus sekolah karena kesulitan ekonomi dan/atau korban musibah berkepanjangan/ bencana alam.
  7. Anak usia sekolah (6-21 tahun) yang belum atau tidak lagi bersekolah yang datanya telah direkapitulasi pada Semester 2 (TA) 2014/2015.

Bagaimana mekanisme penggunaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk mendapatkan bantuan pendidikan di Tahun 2016?

Bagi Anak Penerima KIP maupun anak dari keluarga Penerima KKS (tetapi belum menerima KIP) yang putus/tidak lagi bersekolah baik di sekolah formal maupuan non-formal:
 
1.Anak usia sekolah penerima KIP maupun yang tidak menerima KIP (tetapi keluarganya menerima KKS) tetapi putus/tidak lagi sekolah, harus mendaftarkan diri ke sekolah maupun ke lembaga pendidikan non-formal (seperti SKB/PKBM/Paket/Kursus dan Pelatihan, jika tidak dapat masuk ke sekolah) sebelum melaporkan kartu yang mereka terima ke lembaga pendidikan dan mendapatkan manfaat Program Indonesia Pintar.
 
2. Setelah terdaftar, sekolah/lembaga pendidikan tempat anak terdaftar, mengusulkan anak penerima kartu tersebut untuk didaftarkan sebagai calon penerima manfaat PIP baik melalui usulan calon penerima manfaat PIP 2016 sesuai dengan Format Usulan Lembaga ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (seperti terlampir dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan PIP di Kemdikbud) atau melalui aplikasi Verifikasi Indonesia Pintar dalam Dapodik (sesuai dengan kesiapan dari Kementerian pelaksana program).
 
3. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menyampaikan/meneruskan usulan anak calon penerima PIP dari sekolah/SKB/PKBM/lembaga kursus dan pelatihan sebagai usulan ke direktorat teknis pelaksana PIP di tingkat pusat.
Proses Penyaluran Manfaat Program Indonesia Pintar/PIP:
1. Kemdikbud akan menerbitkan Surat Keputusan (SK) Penetapan Siswa Penerima Bantuan PIP dan mengirimkan SK tersebut ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan, daftar penerima manfaat PIP ke lembaga penyalur yang telah ditunjuk.
2. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota akan mengirimkan surat pemberitahuan dan daftar penerima manfaat PIP ke sekolah/lembaga pendidikan non formal lainnya beserta lokasi dan waktu pengambilan dana bantuan.
3. Sekolah/lembaga pendidikan non formal lainnya memberitahukan ke siswa/orangtua waktu pengambilan dana bantuan.
 
4. Siswa/orangtua mengambil dana bantuan ke lembaga penyalur yang ditunjuk

Untuk pertanyaan seputar PIP dan KIP silahkan lihat informasinya klik disini.....